Dear God.!!!
Tuesday, December 21, 2010 4:52 PM
Sebuah doa natal...
Aku menemukan tulisan yang sangat bagus dari temanku, Beverly Shania. Ini adalah doa Natalnya, doa yang menurutku adalah sebuah doa yang isinya adalah "apa adanya", menceritakan apa yang dirasakan, dan apa yang diinginkannya sebagai hadiah Natalnya.
Dear God,
Apa kabarMu hari ini? Hari ini hari natal. Adakah kau jauh dalam kekudusanMu merasakan setiap kidung natal yang penuh suka cita? Adakah kau melihat beraneka pohon natal yang indah-indah di setiap sudut dalam dunia? Adakah kau dengar berapa banyak orang yang semalam mengucapkan harapan padaMu? Hari ini hari natal. Hari yang sesungguhnya adalah sebuah jalan menuju rumahMu yang tidak beralamat. Sehingga aku tidak tahu kemana aku harus berjalan. Rumahku mempunyai alamat dan petunjuk arah akan membawaMu kesana. Engkau akan lebih mudah mencariku. Tapi alamatmu cuma sebuah nama Surga. Dikutub manakah itu? di jalan apa? mengendarai kendaraan apa agar aku bisa sampai kesana? Kau ingin mencariMu tapi tidak meninggalkan alamat, bagaimana aku bisa sampai kesana? Maka itu aku menulis email ini untukmu tapi add mu aku tidak tahu. Sehingga aku menyimpannya disini. Semoga Tuhan ada waktu buka-buka internet dan tinggalkan pesan disana untukku.
Aku selalu sendiri dalam perjalanan hidup ini. Terkadang terasa lelah dan kesepian. Terkadang merasa bosan. terkadang tidak tahu apa yang harus aku lakukan supaya hidup ini lebih mepunyai arti. Tuhan Kau sendirian jauh dari manusia dan tidak perlu mengerjakan apa-apa untuk tujuan hidupMu. Apakah Kau pernah merasa kesepian tidak ada yang menemaniMu disana? Apakah Kau tidak lelah melihat pergumulan manusia di kerasnya zaman teknologi ini? kau tidak jenuh dengan segala kebodohan yang berulang terjadi dalam hidup manusia? Apa sebenarnya yang tengah kau lakukan untuk tujuanMu supaya manusia tidak tampak kerdil dan bebal? Tuhan, jangan lupa, kalau kau merasa jenuh ,lelah, dan kesepian, aku adalah disini, setiap saat siap menemaniMu. Lagipula aku selalu sendiri. Ada baiknya Tuhan juga berkunjung dalam rumahku. Aku akan memutarkan film doraemon untukMu.
Hari ini hari natal. Aku tahu Tuhan dari jauh melihat dan mendengar semua yang terjadi dalam dunia. Justru Tuhan yang tidak membiarkan aku tahu keberadaanMu. Sehingga aku selalu bertanya yang aneh-aneh. Mungkin Tuhan udah bosan dengan doaku tiap pagi. Maaf ya aku mau mengulangi doa-doaku itu lagi supaya Tuhan menjadi pusing dan bosan. Dengan demikian Kau akan cepat mengabulkan doaku. Supaya aku tidaklah mengangguMu tiap pagi. Tapi aku tidak boleh pergi begitu saja, aku akan masih mau mengganggu Tuhan dengan lebih banyak doa lagi, Karena kau kan sahabatKu. Walau Kau tidak mengakui aku sahabatMu, aku tetap akan tebal muka tiap hari hadir dalam hadiratMu(hehhehe).
Seperti tahun lalu, aku masih menulis sepucuk surat untukMu. MemberitahuMu bahwa aku baik-baik saja. Karena kasih dan karunia aku masih terus mencari diri di antara kesibukan manusiawi. Aku masih mencari diri dalam renungan yang ada dalam tiap ayat firmanMu. Pintu sedikitnya ada terbuka untuk mengintip kedalam kehidupanMu yang misterius, caraMu yang misterius untuk memberikan manusia hidup yang kekal. Cara yang misterius pula untuk mengembalikan manusia yang berdosa kembali ke tempat dimana awalnya manusia berasal. Biarkan aku tahu sedikit rahasia supaya aku bisa lebih dekat padaMu. Kalau Kau ingin aku tidak bilang pada orang lain, aku akan mengunci mulutku. Tapi jika Kau ingin aku membagikan rahasia meraih kemenangan dariMu, aku akan siap melakukannya. Membiarkan seluruh dunia tahun keberadaanMu.
Masih 3 wishes yang aku minta padaMu, jangan lupakan orangtuaku. Beritahu aku caranya agar aku aku bisa membawa mereka kepadaMu. Berikan sedikit petunjuk agar aku bisa melunakkan hatinya yang tertindas. Aku ingin mereka juga seperti aku dapat menikmati setiap keindahan kasih karuniaMu. Jangan pernah tinggalkan orangtuaku walau saat ini mereka masih belum memiliki iman yang sama denganku. Aku mohon kau rela memberikan sedikit waktu kepadaku untuk memenangkan hati mereka. Aku berjanji akan membawa mereka ke dalam rumahMu juga. Hanya saja mereka belum mau membuka hati untuk mengenalmu. Tuhan ketuklah hati mereka sehingga mereka mau memalingkan wajahnya kepadaMu. Biarkan mereka boleh duduk dalam rumahMu dan mengagungkan namaMu.
wishes yang kedua adalah untuk semua teman-temanku. Yang jauh yang dekat yang kaya dan yang miskin, yang sakit, yang lumpuh, yang buta. Tuhan berikan semua kebaikanMu kepada mereka. Supaya mereka tidak merasa ditinggal dalam kemalangan. Berikan mukjijatMu supaya mereka tahu Kau ada hadir dan mencinta mereka. Basuh mereka dalam bungkusan kasih setia sehingga mereka percaya jalan menuju rumahMu memang ada. Banyak dari mereka yang bercita-cita dan berusaha keras untuk mewujudkan semua mimpi untuk masa depan mereka. Tuhan aku mohon kau mendengarkan setiap doa dan permintaan mereka. Biarkan setiap usaha keras mereka boleh mendapatkan seimbangan dengan apa yang sudah mereka lakukan. Jangan retakan impian mereka tentang satu masa depan. Aku ingin juga Kau mencintai mereka seperti Kau mencintaiku.
Wishku yang terakhir tentu saja jangan lagi ada bencana alam, jangan lagi ada terorisme. Aku tahun tanganMu akan bekerja untuk semua itu. Kasihan sekali orang-orang yang dtimpa kemalangan. Banyak anak-anak kecil yang kehilangan rumah, orangtua. Banyak keluarga yang terpisah. Orang menjadi cacat dan lumpuh. Orang-orang yang tidak mempunyai bahan makanan. Demi sesuap nasi mereka harus memelas. Tuhan berikan keadilanMu supaya mereka juga boleh merasakan semua apa yang namanya kasih sayang. Mereka mungkin tidak dapat menikmati semua yang yang aku yang aku punya. tapi Tuhan biarkan mereka merasakan kemewahan akan berkatMu atas mereka. Banyak dari mereka masih tidak tahu apa arti hidup di dunia ini sebenarnya. Beri mereka ksempatan dan rumah yang utuh.
Tuhan, aku tidak meminta apa-apa untuk diriku. Aku sudah cukup dengan apa yang sudah aku miliki. Aku tahu Kau sayang padaku sehingga aku boleh menikmati apa yang tidak dinikmati oleh orang lain. Aku bersyukur dan berterima kasih karenanya. Permintaanku hanya satu,kabulkan doaku. Aku percaya aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan karena Tuhan tidak pernah ingkar janji. Tuhan tidak pernah melupakan apa yang sudah ditulis untuk umatNya. Aku boleh menjadi orang yang terakhir diingat olehMu tapi tolong jangan pernah lupakan orangtuaku, teman-teman dan saudara-saudaraku. Aku rela menjauh dari orangtuaku jika itu bisa membawa mereka lebih dekat padaMu. Aku lrela melupakan semua teman-teman dan saudara-saudara kalau itu bisa membuatMu mewujudkan semua impian mereka.
Terakhir sekali, selamat natal God. AnugerahMu telah sampai padaKu, hadiahMu tentang keselamatan sudah aku tanam dalam hati. Aku akan setiap pagi mneyiramnya dengan renungan-renungan. Percayalah semuanya akan berbuah. Aku berjanji tidak akan meninggalkanMu lagi walau dalam kesesakan. Aku akan berada di jalanMu, membiarkan lebih banyak ladang lagi yang akan tumbuh subur. Hanya Roh KudusMu dalam hidupku yang akan membantuku melakukan semua itu. Aku akan melakukan suatu perjalanan jauh, Aku minta Tuhan membimbingku selamat sampai tujuan. Dimana pun aku berada hanya Kau yang tahu. Terima kasih untuk semua kesabaranMu mendengarkan aku. Jangan lupa balas suratku ya? Aku akan menuliskan emailku diatas. Amin ..
My Thought, My Activism, My Life, My self... all about me, and how can to relationship be with you, be your self and be my mine. Although we have many differences, but we will remain together in unity as a significant. We become ourselves. I have in you, and you in me.
Tuesday, December 28, 2010
Sepercik Renungan Hari Ini
Hari Ini
Tuesday, December 14, 2010 9:31 AM
14 Des - Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32
"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"
(Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32)
"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:28-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
Jujur, apa adanya atau transparan itulah suatu keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini, mengingat dan memperhatikan kebohongan dan sandiwara kehidupan atau korupsi masih marak di sana-sini Dalam kisah warta gembira hari ini antara lain diceriterakan perihal dua anak: pertama mengatakan ya tetapi tidak melaksanakan sedangkan anak kedua dengan jujur mengatakan tidak bisa. Anak kedua inilah yang menerima pujian dan pembenaran dari Yesus. "Jujur pasti hancur", demikian rumor yang sering beredar. Memang benar hidup dan bertindak jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mujur selama-lamanya. Hidup dan bertindak jujur berarti menghayati iman pada Yang Tersalib, siap sedia dan rela menderita sementara demi kebahagiaan atau keselamatan selama-lamanya. Maka dengan ini kami mengajak anda semua untuk mawas diri: sejauh mana buah perjalanan iman sampai kini berbuahkan kejujuran? "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka , Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap kepada para penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi serta pakar hukum dst.. sungguh dengan jujur melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya sehari-hari. Secara khusus juga kami ingatkan kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya hidup dan jujur bertindak jujur kapanpun dan dimanapun.
"Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN" (Zef 3:12). Semoga kita termasuk orang "yang rendah hati dan lemah, …mencari perlindungan pada nama Tuhan" dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Ingatlah dan hayati bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, bahwa kita dapat hidup seperti saat ini hanya karena kemurahan dan kasih Tuhan yang telah kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Entah berapa orang yang telah berbuat baik kepada kita, kiranya tak satu orangpun di antara kita mampu menghitung atau mengingat kembali semua kebaikan yang telah kita terima. Maka selayaknya kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong dan tidak angkuh. Dia yang kita tunggu-tunggu kedatanganNya sungguh rendah hati, dan hanya dalam kerendahan hati kita akan mampu melihat, menikmati dan mengimani kedatanganNya. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Kami harapkan semakin berpengalaman, semakin tua/tambah umur, semakin kaya akan harta benda atau uang, semakin pandai/cerdas, semakin tinggi fungsi atau jabatan dalam hidup bersama dst.. hendaknya semakin rendah hati. Jika tidak rendah hati berarti tidak beriman, tidak percaya pada Tuhan, pada penyelenggaraanNya. Tuhan berkarya dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa mengusahakan perlindungan pada nama Tuhan.
"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya."
(Mzm 34:2-3.6-7)
Jakarta, 14 Desember 2010 (http://renunganimankatolik.blogspot.com/2010/12/14-des-zef-31-29-13-mat-2128-32.html)
Tuesday, December 14, 2010 9:31 AM
14 Des - Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32
"Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"
(Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32)
"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:28-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
Jujur, apa adanya atau transparan itulah suatu keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini, mengingat dan memperhatikan kebohongan dan sandiwara kehidupan atau korupsi masih marak di sana-sini Dalam kisah warta gembira hari ini antara lain diceriterakan perihal dua anak: pertama mengatakan ya tetapi tidak melaksanakan sedangkan anak kedua dengan jujur mengatakan tidak bisa. Anak kedua inilah yang menerima pujian dan pembenaran dari Yesus. "Jujur pasti hancur", demikian rumor yang sering beredar. Memang benar hidup dan bertindak jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mujur selama-lamanya. Hidup dan bertindak jujur berarti menghayati iman pada Yang Tersalib, siap sedia dan rela menderita sementara demi kebahagiaan atau keselamatan selama-lamanya. Maka dengan ini kami mengajak anda semua untuk mawas diri: sejauh mana buah perjalanan iman sampai kini berbuahkan kejujuran? "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka , Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap kepada para penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi serta pakar hukum dst.. sungguh dengan jujur melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya sehari-hari. Secara khusus juga kami ingatkan kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya hidup dan jujur bertindak jujur kapanpun dan dimanapun.
"Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN" (Zef 3:12). Semoga kita termasuk orang "yang rendah hati dan lemah, …mencari perlindungan pada nama Tuhan" dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Ingatlah dan hayati bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, bahwa kita dapat hidup seperti saat ini hanya karena kemurahan dan kasih Tuhan yang telah kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Entah berapa orang yang telah berbuat baik kepada kita, kiranya tak satu orangpun di antara kita mampu menghitung atau mengingat kembali semua kebaikan yang telah kita terima. Maka selayaknya kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong dan tidak angkuh. Dia yang kita tunggu-tunggu kedatanganNya sungguh rendah hati, dan hanya dalam kerendahan hati kita akan mampu melihat, menikmati dan mengimani kedatanganNya. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Kami harapkan semakin berpengalaman, semakin tua/tambah umur, semakin kaya akan harta benda atau uang, semakin pandai/cerdas, semakin tinggi fungsi atau jabatan dalam hidup bersama dst.. hendaknya semakin rendah hati. Jika tidak rendah hati berarti tidak beriman, tidak percaya pada Tuhan, pada penyelenggaraanNya. Tuhan berkarya dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa mengusahakan perlindungan pada nama Tuhan.
"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya."
(Mzm 34:2-3.6-7)
Jakarta, 14 Desember 2010 (http://renunganimankatolik.blogspot.com/2010/12/14-des-zef-31-29-13-mat-2128-32.html)
Apalah arti sebuah ijasah….
Apalah Arti Sebuah Ijazah
Friday, November 26, 2010 12:55 PM
Apalah arti sebuah ijasah….
Pagi-pagi, ketika semuanya telah dimulai dengan semangat baru untuk suatu tugas sepanjang hari.. seorang ibu datang untuk suatu urusan penting. Sang ibu datang dari jauh, sendirian, entah menggunakan angkutan umum, entah diantar, entah dengan berjalan kaki dari rumahnya hingga ke kantor bagian administrasi di sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal. Sang ibu, dengan penuh kelembutan menyapa dan dibalas dengan simpatik pula oleh petugas adminstrasi dan dipersilahkan untuk mengutarakan apa yang harus dikerjakan… mulailah sang ibu tadi mengeluarkan berkar yang tak lain adalah sebuah form bebas tunggakan administrasi untuk pengambilan ijazah. Sang ibu, tak lupa pula menyerahkan sebuah surat kuasa bermaterai, sebagai tanda penyerahan tugas dari yang bersangkutan karena yang bersangkutan berhalangan hadir.
Setelah itu barulah diketahui ternyata dia adalah orang tua dari seorang Mahasiswi angkatan 2001 yang baru lulus yudisiun pada juni 2009 dan telah mengikuti wisuda pada desember 2009 yang lalu. Setelah lulus sang anak atau mahasiswi tersebut rupanya hijrah ke Jakarta untuk sebuah pekerjaan yang memang sangat diinginkannya dan sesuai dengan keahliannya. Dan ini sangat baik, dan begitulah seharusnya, di mana seorang anak sudah bias mandiri bekerja dan menunaikan kewajibannya sebagai anak. Akan tetapi, ada hal yang harus digarisbawahi… kembali kepada sang ibu tadi… dengan sabar terjadi dialog antara ibu dan petugas admin mengenai proses dan langkah yang harus dilakukan sesuai prosedur pengambilan ijazah… lalu mulailah petugas memeriksa laporan yang masuk di database mahasiswa menyangkut andministrasi yang harus diselesaikan… secara akademik, ok, namun ada beberapa hal yang merupakan tunggakan yang wajib diselesaikan, yakni pengumpulan berkas laporan tugas-tugas akademik.
Setelah pencarian secara manual dan masuk dalam program database kemahasiswaan ternyata mahasiswi tersebut belum melengkapi persyaratan tersebut, semua laporan tak satupun yang dikumpulkan, dengan demikian hasilnya adalah nihil. Sang ibu memang tidak merasa heran dengan hal ini… beliau sepertinya memaklumi jika putrinya itu mengabaikan apa yang seharusnya menjadi kewajibannya… sang ibu bercerita…. Mulai dari awal kuliah tahun 2010, yang seharusnya lulus pada tahun 2004… sang anak memiliki bebrapa kecendrungan yang menjadi perhatian kearah indisipliner. Entah ini diluar prestasi akademis, namun secara in persona, bias dilihat bahwa ada sesuatu yang seharusnya diperhatikan yakni bagaimana titik keseimbangan antara prestasi akademis dengan kepribadian, hard skill dan soft skill, ini disimpulkan oleh sang ibu bahwa putrinya memang tidak terlalu memusingkan bagaimana proses akademik itu berjalan, asal kuliah, lulus atau tidak, masuk atau tidak, dan bagaimana dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dan apakah hasilnya baik atau tidak… dan sang anak rupanya tidak terlalu mengindahkan hal-hal itu dengan baik… bahkan kuliah yang seharusnya bias diselesaikan 4 tahun harus terbengkalai karena pekerjaan yang katanya merupakan hobi dan sesuai dengan minatnya.. sang ibu berusaha memahami dan berusaha keras bagaimana agar anaknya itu bias menyerlesaikan studinya sehingga nanti dia bias memiliki gelar akademis dan membantu dalam pekerjaannya yang lebih baik di kemudian hari. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya… orang tua hanya bisa berusaha mengarahkan dan juga mengharapkan apa yang terbaik bagaimanapun caranya, yang penting nanti sang anak dapat menikmati hasil jauh lebih baik dari pada yang ada saat ini. Itulah harapan yang terbersit dalah benak sang ibu.
Oleh karena itu dia berusaha mendamaikan dirinya dengan melihat situasi sang anak. Memang sang anak sudah bekerja, mungkin secara financial sudah mapan dan mandiri, namun hati seorang ibu tetaplah melebur dalam suatu usaha untuk tujuan yang baik bagi anaknya. Mengapa demikian, sang anak rupanya tidak melihat betapa dan berapa penting nilai pendirikan, dan apalah arti sebuah ijazah itu…aku bias bekerja tanpa ijazah itu, nasibku tidak tergantung pada ijazah itu, dengan kata lain, aku tidak membutuhkan ijazah itu…
Setelah bertahun tahun bergumul dalam perkuliahan, pun akhirnya bukan ijazah yang menentukan. Ijazah tidak berfungsi, tidak ada gunanya, dan hanya sebagai labelitas yang bahkan untuk dibanggakan saja itu tidak pantas…
Begitulah fenomena ini akhirnya menjadi suatu keprihatinan yang seharusnya tidak pernah ada. Ada banyak anak bangsa di negeri ini yang bahkan masuk ke sekolah dasar saja mengalami kesulitan di luar akan dan batas pemikiran yang wajar. Ada banyak lulusan SLTP yang ingin melanjutkan ke SLTA, dan ada banyak lulusan SLTA yang ingin mengenyam bangku kuliah dan mendapatkan ijazah agar nanti bias membantu memudahkan mencari pekerjaan, sementara itu ternyata ada beberapa orang yang mengatakan: “ah, sia-sia saja, ijasah tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang baik… “
Lupakan soal itu, kita adalah makhluk educational yang seyogianya adalah makhluk berakal budi yang bias melihat realitas dengan berbagai paradigma yang terjadi dalam kemajemukan rutinitas hidup sehari-hari. Akankah semua orang berpendapat bahwa pendidikan baik formal maupun informal itu penting? Sejauh mana setiap orang merasa wajib mendapatkan pendidikan yang layak, dan apa tujuan pendidikan itu? Apa hakikat pendidikan? Mampukah lembaga pendidikan menjangkau moralitas bangsa dengan sejuta konflik yang ada baik dalah bidang idiologi, politik, social, budaya, agama, ras, yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan dalam setiap pribadi bangsa? Mengapa nilai-nilai yang ada dalam silabus pendidikan baik dalam keluarga, lingkungan, sekolah, organisasi, perkantoran, agama, mampu merubah pribadi dan pola piker seseorang sehingga membentuk satu pribadi yang unik, dan apakan sangat menentukan dalam polemil multikulrutar bangsa yang plural dan majemuk ini, lantas bagaimana sebuah pendidikan berperan aktif meresap segala indikasi kepada suatu unifikasi social yang mengedepankan fungsi atau ultilitarianisme? Berbagai jawaban bisa diberikan sebagai suatu pemahaman bersama, dan kita berharapa nilai pendidikan tetap menjadi nilai sentral dalam tiap pribadi bangsa yang bermartabat ini.
Friday, November 26, 2010 12:55 PM
Apalah arti sebuah ijasah….
Pagi-pagi, ketika semuanya telah dimulai dengan semangat baru untuk suatu tugas sepanjang hari.. seorang ibu datang untuk suatu urusan penting. Sang ibu datang dari jauh, sendirian, entah menggunakan angkutan umum, entah diantar, entah dengan berjalan kaki dari rumahnya hingga ke kantor bagian administrasi di sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal. Sang ibu, dengan penuh kelembutan menyapa dan dibalas dengan simpatik pula oleh petugas adminstrasi dan dipersilahkan untuk mengutarakan apa yang harus dikerjakan… mulailah sang ibu tadi mengeluarkan berkar yang tak lain adalah sebuah form bebas tunggakan administrasi untuk pengambilan ijazah. Sang ibu, tak lupa pula menyerahkan sebuah surat kuasa bermaterai, sebagai tanda penyerahan tugas dari yang bersangkutan karena yang bersangkutan berhalangan hadir.
Setelah itu barulah diketahui ternyata dia adalah orang tua dari seorang Mahasiswi angkatan 2001 yang baru lulus yudisiun pada juni 2009 dan telah mengikuti wisuda pada desember 2009 yang lalu. Setelah lulus sang anak atau mahasiswi tersebut rupanya hijrah ke Jakarta untuk sebuah pekerjaan yang memang sangat diinginkannya dan sesuai dengan keahliannya. Dan ini sangat baik, dan begitulah seharusnya, di mana seorang anak sudah bias mandiri bekerja dan menunaikan kewajibannya sebagai anak. Akan tetapi, ada hal yang harus digarisbawahi… kembali kepada sang ibu tadi… dengan sabar terjadi dialog antara ibu dan petugas admin mengenai proses dan langkah yang harus dilakukan sesuai prosedur pengambilan ijazah… lalu mulailah petugas memeriksa laporan yang masuk di database mahasiswa menyangkut andministrasi yang harus diselesaikan… secara akademik, ok, namun ada beberapa hal yang merupakan tunggakan yang wajib diselesaikan, yakni pengumpulan berkas laporan tugas-tugas akademik.
Setelah pencarian secara manual dan masuk dalam program database kemahasiswaan ternyata mahasiswi tersebut belum melengkapi persyaratan tersebut, semua laporan tak satupun yang dikumpulkan, dengan demikian hasilnya adalah nihil. Sang ibu memang tidak merasa heran dengan hal ini… beliau sepertinya memaklumi jika putrinya itu mengabaikan apa yang seharusnya menjadi kewajibannya… sang ibu bercerita…. Mulai dari awal kuliah tahun 2010, yang seharusnya lulus pada tahun 2004… sang anak memiliki bebrapa kecendrungan yang menjadi perhatian kearah indisipliner. Entah ini diluar prestasi akademis, namun secara in persona, bias dilihat bahwa ada sesuatu yang seharusnya diperhatikan yakni bagaimana titik keseimbangan antara prestasi akademis dengan kepribadian, hard skill dan soft skill, ini disimpulkan oleh sang ibu bahwa putrinya memang tidak terlalu memusingkan bagaimana proses akademik itu berjalan, asal kuliah, lulus atau tidak, masuk atau tidak, dan bagaimana dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dan apakah hasilnya baik atau tidak… dan sang anak rupanya tidak terlalu mengindahkan hal-hal itu dengan baik… bahkan kuliah yang seharusnya bias diselesaikan 4 tahun harus terbengkalai karena pekerjaan yang katanya merupakan hobi dan sesuai dengan minatnya.. sang ibu berusaha memahami dan berusaha keras bagaimana agar anaknya itu bias menyerlesaikan studinya sehingga nanti dia bias memiliki gelar akademis dan membantu dalam pekerjaannya yang lebih baik di kemudian hari. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya… orang tua hanya bisa berusaha mengarahkan dan juga mengharapkan apa yang terbaik bagaimanapun caranya, yang penting nanti sang anak dapat menikmati hasil jauh lebih baik dari pada yang ada saat ini. Itulah harapan yang terbersit dalah benak sang ibu.
Oleh karena itu dia berusaha mendamaikan dirinya dengan melihat situasi sang anak. Memang sang anak sudah bekerja, mungkin secara financial sudah mapan dan mandiri, namun hati seorang ibu tetaplah melebur dalam suatu usaha untuk tujuan yang baik bagi anaknya. Mengapa demikian, sang anak rupanya tidak melihat betapa dan berapa penting nilai pendirikan, dan apalah arti sebuah ijazah itu…aku bias bekerja tanpa ijazah itu, nasibku tidak tergantung pada ijazah itu, dengan kata lain, aku tidak membutuhkan ijazah itu…
Setelah bertahun tahun bergumul dalam perkuliahan, pun akhirnya bukan ijazah yang menentukan. Ijazah tidak berfungsi, tidak ada gunanya, dan hanya sebagai labelitas yang bahkan untuk dibanggakan saja itu tidak pantas…
Begitulah fenomena ini akhirnya menjadi suatu keprihatinan yang seharusnya tidak pernah ada. Ada banyak anak bangsa di negeri ini yang bahkan masuk ke sekolah dasar saja mengalami kesulitan di luar akan dan batas pemikiran yang wajar. Ada banyak lulusan SLTP yang ingin melanjutkan ke SLTA, dan ada banyak lulusan SLTA yang ingin mengenyam bangku kuliah dan mendapatkan ijazah agar nanti bias membantu memudahkan mencari pekerjaan, sementara itu ternyata ada beberapa orang yang mengatakan: “ah, sia-sia saja, ijasah tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang baik… “
Lupakan soal itu, kita adalah makhluk educational yang seyogianya adalah makhluk berakal budi yang bias melihat realitas dengan berbagai paradigma yang terjadi dalam kemajemukan rutinitas hidup sehari-hari. Akankah semua orang berpendapat bahwa pendidikan baik formal maupun informal itu penting? Sejauh mana setiap orang merasa wajib mendapatkan pendidikan yang layak, dan apa tujuan pendidikan itu? Apa hakikat pendidikan? Mampukah lembaga pendidikan menjangkau moralitas bangsa dengan sejuta konflik yang ada baik dalah bidang idiologi, politik, social, budaya, agama, ras, yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan dalam setiap pribadi bangsa? Mengapa nilai-nilai yang ada dalam silabus pendidikan baik dalam keluarga, lingkungan, sekolah, organisasi, perkantoran, agama, mampu merubah pribadi dan pola piker seseorang sehingga membentuk satu pribadi yang unik, dan apakan sangat menentukan dalam polemil multikulrutar bangsa yang plural dan majemuk ini, lantas bagaimana sebuah pendidikan berperan aktif meresap segala indikasi kepada suatu unifikasi social yang mengedepankan fungsi atau ultilitarianisme? Berbagai jawaban bisa diberikan sebagai suatu pemahaman bersama, dan kita berharapa nilai pendidikan tetap menjadi nilai sentral dalam tiap pribadi bangsa yang bermartabat ini.
interpret the significance of your presence
interpret the significance of your presence
Tuesday, August 03, 2010 9:47 AM
is difficult to give sense to someone that there will be difficulties and impossible if we have to impose the will. sense of caring will not be sufficient even be letting go.
This will be a stumbling block to others ..
but, I understand about what really happened.
In fact, I would feel sick if forced myself to attend any further something that should never know.
I don't want to know, I'll close the meeting and harbored a deep, even assuming that this never existed, never had anything happen to you, among us, about us, about this fear.
If too forced, there will be doubts, restlessness, and caused anger aside every feeling that there are about us.
May need some more for introspection, asking about the doubt of the truth which we have had together. I don't want anything to happen and you feel uneasy.
I would like to see you smiling, cheerful, and you can express yourself freely, with your way.
perhaps I could never bring that feeling inside you,
and I know that's impossible, though I know you very much.
I want, I can do for you ..
I too want to love you ...
give comfort, calmness, coolness.
but, we should be able to receive what already exist today between you and me,
between your life and life, between our time together,
until one day we can understand the significance of your presence and my presence ...
about a latent feelings, let it remain there occurred in the hope that neatly folds. maybe we can get it back, remember and describe to each other about the fact that there, rolling in the lap time until we feel that it is very meaningful, and ever present within us ...
my greets, my words.. paskal... :-)
Tuesday, August 03, 2010 9:47 AM
is difficult to give sense to someone that there will be difficulties and impossible if we have to impose the will. sense of caring will not be sufficient even be letting go.
This will be a stumbling block to others ..
but, I understand about what really happened.
In fact, I would feel sick if forced myself to attend any further something that should never know.
I don't want to know, I'll close the meeting and harbored a deep, even assuming that this never existed, never had anything happen to you, among us, about us, about this fear.
If too forced, there will be doubts, restlessness, and caused anger aside every feeling that there are about us.
May need some more for introspection, asking about the doubt of the truth which we have had together. I don't want anything to happen and you feel uneasy.
I would like to see you smiling, cheerful, and you can express yourself freely, with your way.
perhaps I could never bring that feeling inside you,
and I know that's impossible, though I know you very much.
I want, I can do for you ..
I too want to love you ...
give comfort, calmness, coolness.
but, we should be able to receive what already exist today between you and me,
between your life and life, between our time together,
until one day we can understand the significance of your presence and my presence ...
about a latent feelings, let it remain there occurred in the hope that neatly folds. maybe we can get it back, remember and describe to each other about the fact that there, rolling in the lap time until we feel that it is very meaningful, and ever present within us ...
my greets, my words.. paskal... :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)