Apalah Arti Sebuah Ijazah
Friday, November 26, 2010 12:55 PM
Apalah arti sebuah ijasah….
Pagi-pagi, ketika semuanya telah dimulai dengan semangat baru untuk suatu tugas sepanjang hari.. seorang ibu datang untuk suatu urusan penting. Sang ibu datang dari jauh, sendirian, entah menggunakan angkutan umum, entah diantar, entah dengan berjalan kaki dari rumahnya hingga ke kantor bagian administrasi di sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal. Sang ibu, dengan penuh kelembutan menyapa dan dibalas dengan simpatik pula oleh petugas adminstrasi dan dipersilahkan untuk mengutarakan apa yang harus dikerjakan… mulailah sang ibu tadi mengeluarkan berkar yang tak lain adalah sebuah form bebas tunggakan administrasi untuk pengambilan ijazah. Sang ibu, tak lupa pula menyerahkan sebuah surat kuasa bermaterai, sebagai tanda penyerahan tugas dari yang bersangkutan karena yang bersangkutan berhalangan hadir.
Setelah itu barulah diketahui ternyata dia adalah orang tua dari seorang Mahasiswi angkatan 2001 yang baru lulus yudisiun pada juni 2009 dan telah mengikuti wisuda pada desember 2009 yang lalu. Setelah lulus sang anak atau mahasiswi tersebut rupanya hijrah ke Jakarta untuk sebuah pekerjaan yang memang sangat diinginkannya dan sesuai dengan keahliannya. Dan ini sangat baik, dan begitulah seharusnya, di mana seorang anak sudah bias mandiri bekerja dan menunaikan kewajibannya sebagai anak. Akan tetapi, ada hal yang harus digarisbawahi… kembali kepada sang ibu tadi… dengan sabar terjadi dialog antara ibu dan petugas admin mengenai proses dan langkah yang harus dilakukan sesuai prosedur pengambilan ijazah… lalu mulailah petugas memeriksa laporan yang masuk di database mahasiswa menyangkut andministrasi yang harus diselesaikan… secara akademik, ok, namun ada beberapa hal yang merupakan tunggakan yang wajib diselesaikan, yakni pengumpulan berkas laporan tugas-tugas akademik.
Setelah pencarian secara manual dan masuk dalam program database kemahasiswaan ternyata mahasiswi tersebut belum melengkapi persyaratan tersebut, semua laporan tak satupun yang dikumpulkan, dengan demikian hasilnya adalah nihil. Sang ibu memang tidak merasa heran dengan hal ini… beliau sepertinya memaklumi jika putrinya itu mengabaikan apa yang seharusnya menjadi kewajibannya… sang ibu bercerita…. Mulai dari awal kuliah tahun 2010, yang seharusnya lulus pada tahun 2004… sang anak memiliki bebrapa kecendrungan yang menjadi perhatian kearah indisipliner. Entah ini diluar prestasi akademis, namun secara in persona, bias dilihat bahwa ada sesuatu yang seharusnya diperhatikan yakni bagaimana titik keseimbangan antara prestasi akademis dengan kepribadian, hard skill dan soft skill, ini disimpulkan oleh sang ibu bahwa putrinya memang tidak terlalu memusingkan bagaimana proses akademik itu berjalan, asal kuliah, lulus atau tidak, masuk atau tidak, dan bagaimana dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dan apakah hasilnya baik atau tidak… dan sang anak rupanya tidak terlalu mengindahkan hal-hal itu dengan baik… bahkan kuliah yang seharusnya bias diselesaikan 4 tahun harus terbengkalai karena pekerjaan yang katanya merupakan hobi dan sesuai dengan minatnya.. sang ibu berusaha memahami dan berusaha keras bagaimana agar anaknya itu bias menyerlesaikan studinya sehingga nanti dia bias memiliki gelar akademis dan membantu dalam pekerjaannya yang lebih baik di kemudian hari. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya… orang tua hanya bisa berusaha mengarahkan dan juga mengharapkan apa yang terbaik bagaimanapun caranya, yang penting nanti sang anak dapat menikmati hasil jauh lebih baik dari pada yang ada saat ini. Itulah harapan yang terbersit dalah benak sang ibu.
Oleh karena itu dia berusaha mendamaikan dirinya dengan melihat situasi sang anak. Memang sang anak sudah bekerja, mungkin secara financial sudah mapan dan mandiri, namun hati seorang ibu tetaplah melebur dalam suatu usaha untuk tujuan yang baik bagi anaknya. Mengapa demikian, sang anak rupanya tidak melihat betapa dan berapa penting nilai pendirikan, dan apalah arti sebuah ijazah itu…aku bias bekerja tanpa ijazah itu, nasibku tidak tergantung pada ijazah itu, dengan kata lain, aku tidak membutuhkan ijazah itu…
Setelah bertahun tahun bergumul dalam perkuliahan, pun akhirnya bukan ijazah yang menentukan. Ijazah tidak berfungsi, tidak ada gunanya, dan hanya sebagai labelitas yang bahkan untuk dibanggakan saja itu tidak pantas…
Begitulah fenomena ini akhirnya menjadi suatu keprihatinan yang seharusnya tidak pernah ada. Ada banyak anak bangsa di negeri ini yang bahkan masuk ke sekolah dasar saja mengalami kesulitan di luar akan dan batas pemikiran yang wajar. Ada banyak lulusan SLTP yang ingin melanjutkan ke SLTA, dan ada banyak lulusan SLTA yang ingin mengenyam bangku kuliah dan mendapatkan ijazah agar nanti bias membantu memudahkan mencari pekerjaan, sementara itu ternyata ada beberapa orang yang mengatakan: “ah, sia-sia saja, ijasah tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang baik… “
Lupakan soal itu, kita adalah makhluk educational yang seyogianya adalah makhluk berakal budi yang bias melihat realitas dengan berbagai paradigma yang terjadi dalam kemajemukan rutinitas hidup sehari-hari. Akankah semua orang berpendapat bahwa pendidikan baik formal maupun informal itu penting? Sejauh mana setiap orang merasa wajib mendapatkan pendidikan yang layak, dan apa tujuan pendidikan itu? Apa hakikat pendidikan? Mampukah lembaga pendidikan menjangkau moralitas bangsa dengan sejuta konflik yang ada baik dalah bidang idiologi, politik, social, budaya, agama, ras, yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan dalam setiap pribadi bangsa? Mengapa nilai-nilai yang ada dalam silabus pendidikan baik dalam keluarga, lingkungan, sekolah, organisasi, perkantoran, agama, mampu merubah pribadi dan pola piker seseorang sehingga membentuk satu pribadi yang unik, dan apakan sangat menentukan dalam polemil multikulrutar bangsa yang plural dan majemuk ini, lantas bagaimana sebuah pendidikan berperan aktif meresap segala indikasi kepada suatu unifikasi social yang mengedepankan fungsi atau ultilitarianisme? Berbagai jawaban bisa diberikan sebagai suatu pemahaman bersama, dan kita berharapa nilai pendidikan tetap menjadi nilai sentral dalam tiap pribadi bangsa yang bermartabat ini.
No comments:
Post a Comment